BREAKING NEWS

Saatnya Mahasiswa Bersuara

Thursday, June 20, 2024

Komunikasi dan Saling Memahami, Jadi Kunci Sukses LDR Ala Mahasiswa

Ilustrasi Long Distance Relationship
(Sumber: the-bestnime.blogspot.com)


Akara - Hubungan jarak jauh atau biasa dikenal dengan istilah ldr (long-distance relationship) kerap dikaitkan dengan penyebab mudahnya sebuah hubungan berakhir. Terpaut jarak yang jauh, komunikasi yang kurang ideal, menjadikan sepasang kekasih sudah tidak menemukan esensi dalam sebuah hubungan. Hal ini juga berlaku bagi mahasiswa, dengan seabrek tugas kuliah, kesibukan organisasi, tentunya membutuhkan dukungan emosional, tak terkecuali dari sang kekasih.


Adelia, mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret, mengungkapkan bahwa hubungan jarak jauh yang sekarang sedang dijalaninya bersama pasangan berada di kondisi yang sehat. Tidak ada permasalahan dan percekcokan yang terjadi. Adel, sapaannya, setuju bahwa komunikasi merupakan unsur yang penting dalam sebuah hubungan. Meskipun tidak bisa bertemu secara langsung, hanya mengandalkan fitur video call, chat, dan telepon, ia tetap bisa mengetahui kabar pasangannya selagi komunikasi lancar.


“Pastinya komunikasi yang paling penting, soalnya kita gak bisa ketemu satu sama lain, gak bisa lihat dan tau gimana kabarnya. uma lewat komunikasi chatting, telepon, atau vc yang bisa bikin kita tau kabarnya. Jadi, menurutku komunikasi itu kuncinya,” ujarnya saat diwawancarai Akara (19/6/24).


Selaras dengan Adel, Asya () mahasiswi Fakultas Psikologi UNS, mengatakan komunikasi dan saling memahami merupakan kunci dari hubungan jarak jauh (ldr). Walaupun tidak selalu memberi kabar sedetail dan sesering mungkin, sejauh ini hubungannya bersama pasangan masih di kategori cukup aman alias tidak ada permasalahan atau konflik. 

“Terkait memberi kabar, biasanya secukupnya dan sesempatnya saja. Contohnya, mungkin kalau salah satu sedang ada agenda penting, misal mau pergi keluar dengan teman, rapat, dll. Jadi tidak setiap hal kecil perlu dikabarkan,” ungkapnya kepada Akara (19/6/24).


Bagi pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh (LDR), pertemuan merupakan hal yang ditunggu-tunggu. Rindu yang selama ini ditabung, akhirnya bisa tersampaikan juga. Melihat wajah sang kekasih, bertukar cerita, makan bersama, mendengar tawanya, sungguh bisa mengobati rindu yang selama ini terpendam. 


Adel mengungkapkan ia masih tergolong sering bertemu dengan pasangannya. “Kita masih kadang-kadang ketemu, mungkin sebulan sekali atau dua bulan sekali. Walaupun sekalinya ketemu itu cuma dua atau tiga hari terus ldr lagi,” ungkap Adel. 


Sedangkan Asya, mengatakan ia jarang bertemu dengan pasangannya. “Jarang, karena jaraknya jauh dan membutuhkan biaya yang lumayan untuk bertemu”.


Dari pengalaman Adel dan Asya sejauh ini, mereka tak sungkan untuk merokemendasikan hubungan jarak jauh (ldr) ke teman-teman pembaca. Adel mengatakan, selagi menemukan pasangan yang pas, hubungan jarak jauh (ldr) bukanlah sebuah kendala. Komunikasi dan saling pengertian menjadi kunci keberhasilan untuk menjalaninya. “Ldr ternyata gak semenyeramkan itu, asal partner-nya oke, pasti hubungannya juga bakal oke-oke aja. Kuncinya komunikasi dan harus saling ngertiin. Kalau salah satunya males buat berkabar pasti bakalan susah buat jalaninnya,” ungkapnya.


Hubungan jarak jauh (ldr) juga bukanlah suatu hal yang harus dihindari. Adanya kemungkinan untuk menjalin hubungan jarak jauh (ldr) tidak mengharuskan untuk mengakhiri sebuah hubungan. “Mungkin saya lebih ke menyarankan untuk tidak menghindari hub jarak jauh. artinya, kalau memang ada keadaan yang mengharuskan menjalani hub jarak jauh, maka jalani saja jangan terlalu cepat menyerah”. (Priska Bianita)

Share this:

Post a Comment

 
Copyright © 2014 AKARA. Tentangkami