BREAKING NEWS

Saatnya Mahasiswa Bersuara

Thursday, June 20, 2024

Serba Serbi Transportasi Saat Bebas Emisi


Fasilitas shuttle bus yang beroperasi saat bebas emisi dan dapat dimanfaatkan oleh civitas UNS. (Dok/Akara)

Akara, Surakarta - Jalan menjadi saksi, setiap langkah tidak harus ditempuh dengan berjalan kaki saat bebas emisi. Gemuruh roda beriringan melintasi bangunan demi bangunan mengantarkan civitas Universitas Sebelas Maret (UNS) menuju tujuannya masing-masing. Sorotan mata tak henti-hentinya tertuju pada arah laju baja beroda, transportasi milik kampus, layaknya menghakimi.

Ketika bebas emisi berlangsung, seluruh civitas UNS yang memiliki kendaraan tidak diperbolehkan memasuki lingkungan kampus. Kendaraan diparkir di tiga titik utama yang telah disediakan. Namun, kampus juga menyediakan fasilitas berupa transportasi yang bisa dimanfaatkan oleh civitas UNS.

Berdasarkan jenisnya, transportasi yang disediakan oleh kampus saat bebas emisi dibagi menjadi dua, yaitu bus kampus dan electric bus.

Apakah realitasnya sudah sesuai?

Realitas yang dirasakan oleh seluruh civitas UNS kecuali mahasiswa sedikit berbeda. Banyak keraguan yang muncul di benak mahasiswa, terkait boleh atau tidaknya untuk turut menggunakan transportasi tersebut. Keberadaan dua jenis transportasi ini masih belum dirasakan oleh seluruh mahasiswa UNS. Tidak semua jalan menuju fakultas dijadikan rute perjalanan dua kendaraan tersebut.

Melalui survei dengan pendekatan kuantitatif yang telah Akara lakukan, diperoleh data sebesar 27% mahasiswa tidak mengetahui adanya fasilitas berupa moda transportasi umum di kampus. Sebesar 73% sudah mengetahui adanya transportasi umum kampus. Jumlah responden yang mengisi sejumlah 159 mahasiswa.

Namun, pada kenyataannya menilik dari segi pengalaman mahasiswa, sebanyak 83% belum pernah menaiki transportasi umum kampus UNS. Hal ini membuktikan masih terjadi ketimpangan yang dirasakan antara mahasiswa dengan jajaran dosen dan staf. "Saya ingin mencoba naik bis elektrik tapi sepertinya hanya bisa dipakai kalangan staff UNS saja" ungkap salah satu mahasiswa dalam isian survei yang Akara lakukan.

Lantas, bagaimana agar transportasi ini menjangkau seluruh civitas UNS tanpa terkecuali?

Optimalisasi electric bus

Tanpa pintu dan jendela, mesin beroda yang disebut sebagai electric bus berjalan mengelilingi kampus dan mampu mengangkut delapan hingga sepuluh orang sekaligus dalam satu kali perjalanan. Berjalan tanpa mengeluarkan emisi karena bahan bakarnya bukan dari bahan bakar minyak (BBM). "Kita hanya punya 2 unit bus kampus dan 6 unit bus listik," ucap Sutarto, Pengelola Kendaraan Dinas UNS, pada Selasa (26/9/2023).

Setiap electric bus dikendarai oleh seorang supir. Saat Akara datang untuk menaiki electric bus, didapati sikap sang supir yang kurang ramah. Sedikit berbicara, menjawab pertanyaan dengan mimik wajah yang datar diiringi kalimat yang seadanya, membuat Akara segan untuk naik.

Terdapat pula beberapa momen ketika tim Akara mencoba memberhentikan electric bus, tapi tak kunjung berhenti. Padahal, electric bus memiliki tujuan memudahkan seluruh civitas kampus utamanya mahasiswa untuk mobilisasi ketika bebas emisi berlangsung.

Beroperasinya bus kampus

Ketidaktahuan sebagian mahasiswa atas beroperasinya bus kampus, merupakan bukti bus kampus belum cukup berdampak tetapi juga cukup membantu bagi sebagian mahasiswa. Problematika yang membuat bus kampus tidak terlihat adalah jumlah unit yang kurang memadai dengan total penumpang setiap bus yang bisa ditampung kurang lebih 20 orang.

Jika ditilik dari segi emisi, bus kampus ini merupakan kendaraan BBM. Menurut Akara, bus kampus secara tidak langsung juga turut menyumbangkan emisi di dalam kampus walaupun hanya 2 unit.

Bus kampus biasanya beroperasi setiap harinya untuk mengantarkan mahasiswa di pagi hari dan menjemput mahasiswa di sore hari dari dan ke asrama kampus. Sedangkan untuk bebas emisi, bus kampus akan berkeliling setiap saat di dalam kampus untuk mengantarkan mahasiswa ke fakultas masingmasing.

Rute dari bus kampus sepanjang lingkungan UNS, dengan berhenti di setiap halte untuk menurunkan dan menaikkan penumpang.

Namun, setelah melihat realitas seperti sikap sopir yang kurang ramah, beberapa rute yang belum semua dilewati, dan pandangan mahasiswa, menandakan belum terciptanya optimalisasi keberjalanan transportasi umum yang disediakan oleh kampus.

Bisnis antar jemput

Peluang diciptakan oleh beberapa orang untuk meraih keuntungan dari adanya hari bebas emisi. Informasi mengenai bisnis ini tersebar melalui twitter UNS Menfess.

Namun, jika dilihat dari data yang disajikan, dari 100% populasi mahasiswa, sebanyak 97,6% belum pernah menggunakan jasa antar jemput.

Melihat dari fakta di atas, masih banyak mahasiswa yang belum mengetahui adanya keberadaan fasilitas transportasi di kampus. Kemasifan dari informasi tersebut harus lebih dihimbau kembali.

Akara telah melakukan wawancara kepada pelaku bisnis antar jemput saat hari bebas emisi. Bisnis antar jemput ini telah dilakukan sejak Oktober 2022. Dengan tarik Rp 5.000 dengan penumpang sebanyak 8 - 10 orang. Promosi yang dilakukan oleh pelaku bisnis antar jemput melalui media sosial, “Lewat grup Whatsapp organisasi, kelas, share ke temanteman mahasiswa, UNS Menfess.” (Indah Puspita, Chasna Amaliya)

Share this:

Post a Comment

 
Copyright © 2014 AKARA. Tentangkami