BREAKING NEWS

Saatnya Mahasiswa Bersuara

Wednesday, May 29, 2024

Sekilas tentang Bebas Emisi, Pemilihan Jumat Sekedar Hari Olahraga

          

Jumat bebas emisi di UNS (Sumber: Universitas Sebelas Maret)



Akara, Surakarta - Bebas emisi, sebuah program yang sudah beberapa tahun belakangan ini menjadi agenda rutin bulanan di Universitas Sebelas Maret. Banyak tanggapan yang muncul terkait program ini, baik dari mahasiswa, dosen, petinggi kampus, hingga warga kampus lain seperti pedagang kantin dan petugas parkir.

Siapa yang sebenarnya yang mencetuskan ide mulia untuk mendukung gerakan hijau ini? Apakah ide ini muncul karena kesadaran untuk bersinergi menjaga bumi? Atau diselipi keinginan agar kampus bisa ikutan ajang dan mendukung gerakan green campus?


Kenapa juga pemilihan hari ditetapkan di hari Jumat? Kenapa tidak hari lain dari Senin sampai Kamis?

Akara mewawancarai Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UNS, Ahmad Yunus (4/10/23) dan Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup UNS, Dewi Handayani (3/10/23) agar bisa mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.


Siapa yang mencetuskan bebas emisi? “Kalau idenya siapa persisnya saya juga belum tahu jelas. Dulu, saat mencetuskan itu tujuannya supaya kita ini menjadi kampus yang hijau, ramah lingkungan. Sampai 2020, karena COVID-19 jadi bebas emisi semua. Setelah itu 2021 kita usulkan ke Pak Rektor, supaya bebas emisi 2 kali dalam seminggu. “ (Ahmad Yunus)


Kenapa hari Jumat?

“Oh iya, itu kan karena ya sejak awal kan, sejak lama kan memang hari Jumat itu hari kan olahraga to” (Ahmad Yunus)


Siapa yang melatarbelakangi dicetuskannya bebas emisi?

“Jadi, pada prinsipnya memang diawali dari keikutsertaan UNS pada green campus sejak tahun 2013. Rangking kita kan baguslah gitu di dunia maupun di Indonesia. Nah, cuma masalah terberat datang dari transportasi. Karena salah satu penilaian dalam green campus itu adalah jumlah kendaraan yang masuk. Jadi harus dikendalikan jumlah kendaraan yang masuk.” Ada semacam semacam perhitungan, kalau jumlah kendaraan yang masuk itu di UNS itu tinggi, maka ya memang agak sulit untuk mendapatkan penilaian yang bagus di green campus khususnya di bidang transportasi. Nah, dampak lainnya kendaraan itu kan juga hubungannya emisi.

Sehingga waktu itu seingat saya waktu awal pandemi sebenarnya hari bebas emisi itu ya karena kami ingin mengurangi jumlah kendaraan yang masuk dalam kampus. Sehingga kalau kita “harus melaporkan” itu bisa dikurangi.”

“Kemudian, selain pandemi sering ada agenda bersepeda yang diadakan oleh para pimpinan di hari Jum’at, terus waktu itu otomatis dicetuskanlah hari bebas emisi di UNS. Waktu itu, situasinya memang mendukung karena kesempatan pada saat covid. Kendaraannya masih sedikit, kita mulai dari situ.” (Dewi Handayani)

Kenapa intensitas bebas emisi bertambah? “Karena trend-nya naik terus, dan kemarin ketika kami lakukan penghitungan jumlah kendaraan, agak syok juga. Ada satu titik selama 15 menit pada pukul 7, sudah naik beberapa ratus kendaraan. Kami sudah tidak tahu lagi harus bagaimana mengendalikan orang seperti itu. Yang harus dipikirkan kayak gini tuh dari mahasiswanya. Ini masalah perilaku, masalah behavior, ya selama kalian kalau bisa parkir kendaraan di dekat kamar tidur, ya pasti memilih parkir di situ.”

“Nah, itu salah satunya yang melatarbelakangi naiknya intensitas bebas emisi ini. Karena kami tidak tahu lagi masih bisa bertahan untuk rangking yang bagus apa ndak? Karena situasinyasituasinya kan tidak membaik ini khusus pengguna kendaraan”(Dewi Handayani)


Apakah nanti kedepannya itu ada kemungkinan untuk diadakan lagi kayak penambahan Hari Bebas Emisi gitu bu? Jadi sebulan 4 kali atau bagaimana? Ya mungkin saja, tapi kami kan tidak tau ya. (Dewi Handayani)


Apa itu green campus? Jadi, green campus itu ada 6 aspek yang memang harus dijaga, salah satunya transportasi. Yang lainnya itu, pengelolaan sampah atau limbah di kampus, pengelolaan infrastruktur kampus, pengelolaan energi, pendidikan tentang Education for Sustainable Development, dan pengelolaan air. (Dewi Handayani)


Solusi terhadap permasalahan parkir atau bebas emisi? “Cita-cita dari dulu itu ada car pulling, agar parkir jadi terkontrol lah, itu yang bentuk fisik Kalau yang non fisiknya ya kami berharap kesadaran kepada mahasiswa terkait pengurangan penggunaan kendaraan.” (Dewi Handayani)


Penulis: Priska Bianita

Share this:

Post a Comment

 
Copyright © 2014 AKARA. Tentangkami